Berdamai

mentari pagi ini

Beberapa hari ini aku menonton serial tentang DID dissociative identity disorder atau MID Multiple Identity disorder. Senangnya serial ini bukan serial yang “berat” karena walaupun bahasannya aga berat tapi dibawakan dengan cerita yang menghibur dan “okey” ada cinta – cintaan. Bukannya mau bilang kalau ada cerita cinta-cintaan pasti ga berat, bahkan kadang bahasan cinta akan jadi bahasan berat (okey ga boleh curhat). Tapi tidak bahasanya tidak berat. Ringan tapi tak garing.

Lalu aku jadi ingat kejadian saat masih kuliah di Surabaya. Suatu pagi, salah satu kawanku yang bisanya saat kuliah duduk dibarisan belakang dan kesiangan tiba – tiba datang lebih pagi dan duduk di depan, awalnya kami tak curiga dan kuliah seperti biasa. Sampai saat dosen genetika pergi meninggalkan kelas, salah satu dari kawan kami yang selalu duduk di depan dan bersebelahan dengannya bertanya.

“Dan tumben duduk di depan, pagi banget lagi. Biasanya telat”

Dan kawan kami ini mengagetkan kami semua ketika bilang :” aku bukan Dani, aku Wawan. Daninya sedang tidur di kosan”

Jeng –jeng seketika kelas kami yang mayoritas perempuan itu gempar, Dani berubah jadi Wawan. Dia berubah jadi aneh. Tak seperti Dani yang biasa. Dia lebih alim dan lebih ramah. Beda dengan Dani yang biasa serius. Tapi karena kami saat itu sedang sibuk kuliah “cieh”  praktikum maksudnya. Praktikum dan tes awalnya yang selalu bikin keki, kami melupakan keanehan itu. Sampai suatu pagi kami digegerkan lagi dengan insiden… “Dani mencoba bunuh diri”

Dia mencoba menyayat pergelangan tangannya…

Kembali lagi ke 2015.

Dari beberapa penggalan kisah di masa kuliah itu aku jadi penasaran dengan kasus DID.  Apakah kasus ini benar – benar ada. Bagaimana mungkin seseorang mengeskpresikan pribadi yang berbeda tapi dia tidak ingat. Lalu apakah mereka memiliki kecenderungan kerusakan otak?

Karena setahu aku lobus ingatan di satu orang itu ya hanya satu. Lalu apa mereka tidak memiliki sejenis “ kolam ingatan” yang bisa kita pilih mana yang akan kita ingat. Sama seperti manusia pada umumnya. Jika setiap orang yang memiliki trauma dan mengguncangkan hidupnya bukankah mungkin kita semua bisa memiliki DID? Kemudian diakhir artikel aku membaca kalau setiap orang memiliki kejadian dimasa lalu yang bisa sangat mempengaruhi hidupnya. Pengobatan penderita DID adalah menselaraskan kepribadian yang satu dengan yang lain. Disinilah kuncinya menurutku. Kita dengan segala kejadian masa lalu yang sedih atau yang bahagia, kita memiliki pilihan untuk mengambil ingatan di “kolam ingatan” itu. Mengambilnya sebagai bekal masa depan. Dan ketika semua jadi berat dan menyakitkan maka pertanyaannya adalah “ bisakah kita berdamai dengan diri kita?”

Berdamai dengan diri, menerima ketetapanNya sebagai ujian dan untuk bangkit merubah takdir. Bukankah hal yang tidak membunuh akan membuat kita lebih kuat?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s