DEWASA

Ah kalau aku bisa berkata ini adalah sebuah kesalahan maka tak akan pernah selesai kecuali kita berpikir jalan tengahnya sebagai solusi.

Mungkin ini hanya ada dalam otakku saja maka hari ini akan aku keluarkan pikiranku.

Selama ini aku menelaah apakah yang terjadi dengan teman sekitarku. Ada yang pergi ada yang datang adalah hal yang wajar dalam suatu komunitas. Tetapi jika ada yang keluar dan meninggalkan tanda tanya apa yang ada dalam otakku:

  1. Marah kepada yang pergi karena hanya meninggalkan persoalan yang tidak akan pernah kita tahu kalau tidak dibicarakan. Karena kita semua manusia bukan dukun yang bisa tahu apa yang ada dalam setiap otak manusia. Untuk itulah kita diberikan keleluasaan melalui mulut kita untuk berbicara. Sengan sopan dan dantun sperti dat ketimuran kita.
  2. Berfikir apakah ada yangs lah dengan kita ( kita disini termasuk aku), mungkin ada sikap atau keputusan yang kurang berkenan. Atau cara pengambilan keputusan atau hanya masalah sehari hari. Jujur aku bukan tipe orang yang bisa menerima kekuragan ku. Iya tapi aku akan sangat menyesal jika aku kehilangan temanku karena aku tak peduli dengan sekitarku. Mendengar itu kuncinya.

Dari sini bukankah kita bisa memperbaiki jika ada yang slah dengan diri kita. Misalnya ketika kita panas. Itu adalah indikasi ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuh kita.

Atau entahlah mungkin aku berasal dari kumpulan orang yang berazaskan kekeluargaan ydengan aturan yang jelas. Bukan berarti aturan di komuniatas ini tidak jelas, tapi aku hanya menyayangkan apabila ada kawan yang pergi. Aku seperti kehilangan satu tumpuan. Kawan pergi satu kan datang kawan baru, iya. Tapi kawan yang pergi tidak bisa terganti.

Soal kedewasaan. Aku sangat mengerti kedewasaana dalah pilihan. Dan di komunitas lama aku merasa tersakiti dengan kalimat ini sejujurnya. Aku dianggap tidak dewasa hanya karena sikapku sehari hari yang ceria dan tidak seenaknya. Hanya kepada kawanku yang dekat aku bisa bersikap dewasa. Dewasa itu tidak seenaknya kata mereka. Seenaknya seperti apa. Apa aku pernah menyebabkan mereka berurusan dengan pihak lain? Atau aku pernah merugikan mereka? Sejujurnya dewasa menurut aku adalah bisa menempatkan diri bukan karena aku sering bercanda aku tidak dewasa. Bercanda yang tidak apda tempatnya itu yang namanya tidak dewasa. Cap “ aku tidak dewasa” melekat di namaku kala itu. Kalau hanya aku membedakan sebutan nama kepada kawan kawanku sepeti, papi, mami… itu tidak dewasa? Apa bedanya dengan sebutan kakak dan adik?

Sejak saat itu aku concern dengan kata “ dewasa” aku adalah yang orang lain pikirkan.

Karena kamu berfikir aku tidah dewasa maka seperti itulah aku akan bersikap. Untuk yang dulu pernah satu organisasi denganku, izinkan aku meminta maaf karena kalian tidak pernah melihatku mengeluarkan diriku yang sebenarnya.

Aku yang ceria adalah topeng dari kekecewaanku pada kalian.

Dan sejak saat itu aku hanya akan mengeluarkan sikapku pada satu orang. Sahabat terbaikku saat kuliah. Pertama dia kaget karena aku berbeda saat menghadapi percekcokan diantara kawan kami. Sejak saat itu dia berkata kalau aku berbeda kalau menyelesaikan masalah. Aku adalah apa yang kamu inginkan. Ketika kamu jujur padaku maka aku akan jujur padamu. Tetapi sekarang ketika aku sudah bekerja. Aku bertemu orang baru dengan pandangan baru. Aku lelah membohongi diri. Aku mau jadi diriku sendiri.

Lalu soal kedewasaaan. Aku berfikir jika kita memiliki kawan yang menurut kita berbeda bukan berarti dia tidak dewasa. Dia hanya memiliki pandangan lain dengan kita. Soal kita yang menganggap mereka tidak dewasa karena mengikuti apa kata sahabat dekatnya. Ada satu hal yang seharusnya kita telusuri.

Sahabat seperti apa yang dia ikuti? Dan dia gantungkan? Lalau dia memilih pergi? Dia gamang antara memilih tempat yang menurutnya tidak menerimamnya padahal menerima. Karena ada propaganda didalamnya.

Kalau aku, jujur aku kasian. Aku kasian akrena dia tidak bisa membuat sahabatnya untuk tetap tinggal, dan berdiskusi dengan yang lain.

Aku kasian karena dia tidak memiliki daya untuk melawan. Aku ga peduli dia sudah berumur atau dia bisa dikatakan tidak dewasa. Yang ada dalam pikirannya dalah dia tidak ingin ditinggalkan oleh sahabatnya. Dan aku tidak akan berkata dia tidak dewasa. Menurut dia dia dewasa tapi menurut orang lain dia mbebek. Tergantung dari mana sudut pandang kita. Kalau aku, aku kasihan menurut aku dia hanya terjebak pada perselisihan dan dia tidak tega sahabatnya jatuh sendiri. Padahal dia masih ingin tinggal. Dia tidak dewasa? Bukan dia hanya membuat dirinya jatuh bersama dan mengambil resiko bersama sahabatnya. Ketika dia sadar dia telah jatuh ke jurang bersama sahabatnya dia ingin kembali ke komunitas asalnya. Jadi ingat buku koala kumal nya Raditya Dika. Ketika ada Koala yang pergi dari main ke hutan sebelah, saat kembali dia menemukan hutan tempat tinggalnya tidak sama seperti dulu, dan dia bingung.

Ini yang aku pertanyakan. Ketika sang Koala datang kembali. Apakah hutan itu berubah atau tidak? Setiap hubungan ada perubahan seperti musim juga berganti. Setelah ada yang pergi dan ingin kembali. Apakah sang Koala bisa beradaptasi dengan tempat yang sudah berubah? Atau tempat tinggal yang telah berubah ini punya ruang untuk Koala yang telah kembali?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s