Supernova, Ksatria putri dan bintang jatuh – Sebuah Tanya

Ah sudahlah saya tidak tahan lagi,Kepala saya masih penuh dengan pertanyaan cerita film Supernova Ksatria, Putir dan Bintang jatuh.

Supernova Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh

Saya memang baru menonton tadi malam,

Diawali dengan munculnya 2 orang yang tidak saling kenal, bertemu di Amerika kemudian saling berjanji akan menciptakan sebuah masterpiece 10 tahun kemudian.

Roman yang berhubungan dengan sciens menjadi pilihan sepasang manusia yang ternyata adalah seorang gay.

Lalu muncullah karakter karakter imajinasi mereka, Ferre. Ferre seorang yang digambarkan sebagai lelaki muda, sukses dan tampan. Memiliki kedudukan dan kekayaaan yang diperankan oleh Herjunot Ali. Lalu Rana yang sama seperti Ferre dalam bentuk perempuan. Cantik, kaya dan karir bagus. Bedanya adalah Rana sudah menikah. Mereka dipertemukan dengan epic kemudian menjalin cinta. Rana diperankan oleh Raline shah yang bersuamikan Fedi Nuril yang berperan sebagai Aswin.  Penggambaran masalah yang simple tapi berat solusinya. Dan akhirnya menimbulkan pembenaran-pembenaran dari sebuah kesalahan.

Ferre menemukan cinta dan Rana merasa dicintai dengan pas oleh Ferre. Sebuah kisah cinta terlarang yang dirasa benar oleh Ferre dan Rana. Disisi lain Aswin mempertanyakan perubahan Rana dan mempertanyakan kebahagiannya


Lalu muncullah sosok Diva, sosok yang digambarkan steady tapi pelacur dalam arti yang luas.  Dia memberikan kalimat yang pedas dan pernyataan yang melibatkan emosi pada kliennya.

Ferre, Rana, dan Aswin akan terhubung oleh Diva yang kemudian disebut Supernova, Cyber avatar . Kisahnya mengalir apik dengan efek yang menurut saya adalah gambaran psikologis seseorang. Yang pada akhirnya kita sebagai penoton diberikan keleluasaan menerjemahkan karya ini.

Dari segi penokohan menurut saya si Ferre kurang greget saat melafalkan dialog yang memang panjang. Begitu pula sosok Aswin yang lebih kaku lagi adalah sosok Diva. Terlalu cepat melafalkan bagian bagian yang menurut saya berat bahasanya. Sosok Rana sejauh ini yang paling mendekati imajiansi saya.

Pengambilan scene dan lokasi di film ini memanjakan mata sekali. Menyenangkan dan menyegarkan pandangan.

Dan sampai saat saya menulis ini saya masih bertanya-tanya setiap perumpamaan yang digambarkan dalam scene. Dan menurut saya film inilebihd ari sekedar film berat dan berbobot. Ini film kontemplasi.

Pada akhirnya saya merumpamakan bahwa supernova adalah nurani kita, ruben dan dimas adalah dua sisi logika. Pada tahap tertentu manusia yang disebut manusia seutuhnya adalah manusia yang bisa mensejajarkan logika, nafsu dan keinginan juga cinta menuruti hati nurani. Ketika kita mempertanyakan pertanyaan paling sulit tentang hidup kita, dita bisa menemukannya dalam diri kita sendiri. Ya dalam hati nurani kita. Kadang kita (sebut saja ini saya)  lupa bahwa kita memiliki hati nurani. Nurani yang memberikan gambaran tentang untuk apa saya hidup dan apa saya bahagia dalam hidup saya? Ini hal yang amat sederhana tapi sulit dilakukan. Ya percaya padaNya dan pada hati nurani.

Dan fim ini menampar saya dengan amat halus. Terima kasih atas tontonan apik ini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s