Kisah Diana

Sesungguhnya yang namanya ketetapan sang pemberi hidup sudah digariskan dan ditetapkan tanpa kita bisa melawan, berbeda dengan takdir. Kita bisa mengubahnya jika kita berusaha.
Aku tak akan membahas soal agama, tapi aku hanya ingin bertutur tentang kisah dari seorang kawan lama. Kawan yang telah memiliki pengalaman hidup yang lebih lama dan tentu saja lebih banyak mengalami pahit getir juga tangis tawa hidup.
Sebut saja mawar (oke aku tak akan memakai nama ini) , Diana.
Kawan yang secara tidak sengaja bertemu karena dikenalkan oleh seorang kawan kuliah. Pertama bertemu tak ada yang istimewa hanya sekedar bercerita ringan soal kerjaan. Lambat laun kita semakin dekat dan dia mulai nyaman bercerita tentang kisahnya.
Di umur yang tidak lagi muda dia ditingggalkan oleh suami tercintanya. Dan pertama kali bertemu dia masih dalam masa menanti putusan cerai. Tak terbesit kesedihan lagi di matanya, tapi kepasrahan akan keadaan ini.
Bagaimana dia bisa hidup dalam tiga bulan pertama dia mengetahui suaminya ternyata menjalin kisah terlarang dengan sekretarisnya. Dia hanya bisa berdoa memohon dikuatkan imannya. Karena setelah dia mengetahui sekretaris itu mengandung benih dari suaminya, lelaki yang amat dia banggakan dia bagaikan tak lagi menapak di bumi ini. Aku tak bisa membayangkan betapa hancur hati dan jiwanya saat itu. Di balik senyum dan keramahannya dia menyimpan sakit yang tak pernah bisa aku bayangkan.
Setahun kemudian aku pindah kerja ke Bogor dan aku menemuinya yang juga sudah dimutasi ke kantor pusat. Asalnya memang dari bogor. Maka tak pelak bahagia aku menemuinya kembali. Aku bertanya soal kabar dan dia selalu baik-baik saja. Ah Diana, engkau bukan lagi manusia tapi malaikat. Tapi karena kesibukan satu sama lain kita jarang contact sampai suatu saat dia mengikuti kegiatan di komunitas yang aku ikuti.
Awalnya dia tak cerita soal apapun, tetapi saat aku menyinggung kabar mantan suaminya dia mulai bercerita tentang apa yang terjadi. Setahun lalu istri mantan suaminya meninggal dunia karena kecelakaan dan meninggalkan anaknya yang baru berumur 4 tahun. Aku kaget, dan dia dengan muka datar, doain saya kha…Saat dia dikasih tahu oleh adik mantan suaminya dia hanya bisa memaafkan apa yang pernah dilakukan oleh mendiang istri mantan suaminya. Dan dia berkata : “ iya , aku sudah memaafkannya.’
Aku kagum padanya, memaafkan orang yang telah hadir dan tertawa diatas pedihnya itu bukan hal yang mudah. Betapa kisahnya sudah membuatku berkaca, di balik kesedihan cobaan kita aka nada hal yang lebih indah jika kita pasrah dan memohon yang terbaik padaNya. Berprasangka baik akan ketetapanNya dan selalu memohon yang terbaik untuk hidup kita. Semoga kita selalu menjadi orang yang baik dihadapan Tuhan kita dan keluarga, saudara dan kawan kita. Amiinnn

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s