Terimalah dan Hadapilah

10 Februari 2013

Minggu lalu, jam yang sama seperti saat ini aku masih di kota yang selalu memberikan ketenangan, tapi itu dulu. Kali ini aku tak lagi bisa merasakan ketenangan itu. Dulu setiap aku punya masalah kau selalu kesini. Hanya untuk berjalan dan merasakan udaranya. Apa mungkin aku takkan pernah bisa menyambuhkan lukaku. Atau mugkin luka ini terlalu parah hingga perlu rel yang lebih panjang dan tempat yang lebih jauh untuk pergi. Sekedar untuk berfikir dan melepaskan pikiran. 

Gambar

 

 

 

 

 

10 Februari 2013, sore hari

Pernahkan mengalami dilema pertemanan dalam hidupmu?

Aku sedang mengalaminya sekarang.

Banyak yang bilang yang namanya teman itu selau ada buat kamu. Selalu ada disisimu untuk menenangkanmu dan memberimu dukungan ketika kau ada masalah.

Layaknya cinta dan persahabatan. Tapi sayangnya tak setiap orang bisa menjadi “cinta” di “ada apa dengan cinta”. Kita memang pemeran utama pada kehidupan kita dan masalahnya teman kita juga punya kehidupan sendiri dan kalimat teman akan selalu ada disisimu itu tak bisa berlaku kan? Karena mereka juga punya kehidupan sendiri dan mereka adalah pemeran utama di kehidupan mereka, kita jadi pemeran kesekian dikehidupan mereka. Itu yang harus kita terima mau atau tidak. Simple , atau mungkin aku yang terlalu sensitif untuk memikirkan hal sesimple ini.

Contoh kasus :

Aku ingin ditemani ke suatu tempat, aku coba hubuungi satu persatu teman dekat. Dah hasilnya:

Teman 1 : aku masih di bekasi gak mungkin kesana.

Teman 2 : aku harus ke rumah calon mertuaku

Teman 3 : aku suda ada janji lain maaf,..

Teman 4 : Kesana itu macet banget…

Dan setelah mendapat jawaban dari 4 orang yang berbeda moodku turun tiba – tiba. Lalu aku berfikir apa ada yang salah denganku? Mungkin iya lalu  dimana letak salahnya. Hingga aku sadar… otakku yang salah.

Bukanya aku harus sadar kalau setiap orang punya urusan sendiri –  sendiri? Tapi ini balik lagi ke aku. Apakah aku sudah jadi teman yang baik untuk mereka?

Atau karena kau barusaja hidup di kota ini jadi jaringan pertemananku amsih dangkal?. Perlu expansi dan perjuangan lebih untuk bisa mendapatkan teman yang lebih abnayak lagi. Setidaknya itu yang aku rasakan saat ini.

Kadang aku merasa sendiri di kota ini. Saat orang lain berkumpul menikmati malam, bercengkrama dan menikati teh sambil bertukar pikiran dengan keluarga dan kawan, maka aku hanya bercengkrama dengan dvd dan tv. Percengkramaan kami cukup simple. Aku hanya perlu menancapkan, menyalakan, memilih dvd dan whualaaa olalaaaa jadilah penonton yang manis. Dengan remote bertengger manis di tangan aku memutar sesukaku. Kalau film membosankan aku tinggal ganti dvd. Masalah selesai. Atau klil next maka bagian yang tidak aku sukai akan cepat berlalu bahkan kita ga perlu melihatnya kalau kita pencet sppt 2x. Indahnya hidup jika kita punya remote di kehidupan nyata kita.

Tapi bukankah ada yang hilang ? proses pendewasaan akan hilang. Pernah lihat film “ click” film ini keren sekali. Membuatku mengerti bahwa dalam hidup kita harus menghargai proses, ada sedih ada bahagia dan kadang saat sedih itu kita merasa dikuatkan dengan cara yang berbeda.

Dan aku sedang berproses sekarang. Memutuskan untuk hiduo jauh dari irang tua dan sendiri disini memiliki konsekuensi yang tak sedikir. Salah satunya kawan. Kehidupan sosial ini kadang membuatku menyerah dan menangis.

Apa yang bisa kau lakukan kecuali menangis saat tak ada orang yang  bisa kau ajak bicara. Ketika kau membutuhkan temen untuk sekedar bercerita? Dan kenyataannya kau sendiri dan tak tau harus berbuat apa. Sebenarnya banyak yang bisa aku lakukann. Seperti saat ini aku menulis tapi kebanyakan saat seperti ini aku menangis… ketika tv dan dvd tak bisa membuatku tenang, dan berdoa aku menangis. Membersihkan mata itu bagus untuk kebersihan mata kok.

Ketika aku bertanya dimana temanku saat aku butuh? Jawabannya adalah mereka sedang menunaikan tugas lain sebagai makhluk sosial yang memiliki kehidupan sendiri dan teman lain. Mungkin ada kawan lain yang lebih butuh ditemani daripada aku sekarang. Karena setiap kita punya cerita sendiri tentang sahabat dan teman. Dan setiap teman kita memilii cerita tentang dirinya sendiri sebagai pemeran utama dan kita sebagai peran pendukung. Jadi siapkan diri kita untuk jadi peran utama dan peran pendukung untuk kehidupan teman dekat kita, jadi peran pembantu untuk kawan jauh dan jadi cameo untuk orang yang kebetulan bertemu di jalan, di mall atau dimanapun. Karena kita bukanlah satu satunya “ cinta” di “ ada apa dengan cinta”. Terimalah dan hadapilah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s